Menjadi orang yang bermanfaat tidak harus memiliki banyak uang, gelar atau jabatan. Orang biasa pun bisa melakukannya. Seperti halnya Edi Bahrudin (49) atau biasa disapa Udin Angkot. Lelaki asal Pandeglang ini hanya tamatan SMP, dan berprofesi sebagai supir angkot jurusan Pandeglang-Serang. Udin Angkot mampu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Sejak setahun lalu, Udin menyulap angkot miliknya menjadi ‘Angkot Baca’ gartis bagi para penumpangnya. Puluhan buku dan koran disediakan dalam angkotnya. Motivasinya hanya satu: ingin mengajak masyarakat Banten gemar membaca.

Udin memang bukan terlahir dari keluarga berada. Udin kecil sudah akrab dengan jalanan, terminal dan pasar, ia juga mengaku sempat menjadi penjual asongan dan kondektur. Siklus kehidupan itu sudah ia cicipi selama 9 tahun. Sehingga sekolahnya bubar. Ia hanya mampu bertahan hinga SMP, itu pun termotivasi dari almarhum bapaknya yang selalu mengatakan pada Udin untuk terus bersekolah. Ia sempat mencicipi dunia sekolah SMK, tapi itu dilewatinya hanya sebentar. Sempat terpikir untuk meneruskan sekolah, tapi Udin lebih memilih mencari uang terlebih dahulu dengan menjadi kondektur. Tapi untuk urusan baca, Udin tak pernah lupa.

Awalnya ia mengaku paling suka membaca Koran Pos Kota, terutama cerita-cerita kriminal. Hingga lambat laun, kegemarannya memabca terus meningkat, dari baca koran, kemudian baca buku dan sesekali iseng-iseng menulis. Udin paling suka buku-buku tentang motivasi.

Hingga suatu waktu, Udin termotivasi usai membaca salah satu buku karangan Gol A Gong, sastrawan Banten yang sekaligus pendiri Rumah Dunia di Ciloang, Serang-Banten. Dia juga jadi ingin mengenal sosok penulis itu lebih dekat. Dengan segala daya, Udin mencoba bangkit kembali untuk berlatih menulis, itu terjadi saat usinya 40 tahun. Dulu, Udin senang membuat pantun, bahkah salah satu pantunya sempat ditunjukkan kepada Gubernur Banten pertama. Lantas, tulisan itu ia sodorkan kepada Gol A Gong untuk dikoreksi. Udin merasa, dari sana ternyata kegiatan menulis dan membaca asyik juga. Udin mulai berfikir untuk serius menulis lagi.

Manfaat membaca dan menulis bagi Udin sangat dasyat! Mendapat apresiasi, dikenal sejumlah orang dan bisa memantu mencerdaskan anak-anak warga sekitar dengan kegiatan literasi, merupakan karunia yang bersar. Hasilnya, benar-benar Udin nikmati dengan penuh syukur.

Udin juga membaca buku-buku orang sukses karena membaca, seperti buku Soekarno, Bung Hatta dan lain-lain. Bagi Udin, membaca dan menulis jika ditekuni dengan serius, dampaknya akan luar biasa.

Dari banyak bersinggungan denga buku dan pegiat literasi, Udin Angkot juga terinspirasi membuat perpustakaan di dalam angkotnya. Yang kemudian ia namai “Angkot Lierasi”. Itu ia mulai sejak Oktober 2016 lalu. Sebulan kemudian ia juga membuka perpustakaan di rumah pribadinya di Pandeglang. Koleksi buku yang ia miliki awalnya berasal dari sumbangan Gol A Gong dan beberapa kawan dan dari donatur. Hingga sekarang koleksinya sudah mencapai ratusan buku.

Udin mengaku, awalnya sang istri kaget, angkot suaminya diisi dengan buku-buku. Tapi kemudian sang istri menjadi orang pertama yang mendukung niat Udin.

Udin mengaku memang ada saja buku yang hilang tiap kali ia bawa di mobil angkotnya. Ia mengaku rugi karena dua bagku yang masih bisa untuk memuat penumpang, ia gunakan untuk menaruh rak bukunya, tapi mau bagaimana lagi, sebab ini sudah menjadi hobi Udin. Ia mengaku sudah seperti panggilan jiwa. Udin membawanya dengan senang hati saja.

Hingga kemudian, banyak penumpang yang membaca di mobil Udin Angkot lantas berfoto. Udin menebak mungkin sudah lebih dari 100 foto yang orang-orang unggah di media sosial masing-masing. Hingga akhirnya Udin banyak menuai pujian dari banyak orang.

Setiap harinya Udin Angkot biasa mencari penumpang dari Pandeglang sampai Kota Serang. Bada solat subuh ia sudah bersiap-siap memanaskan “Angkot Literasi-nya” untuk bertempur mencari rezeki, juga sekaligus menyediakan akses baca bagi oarng-orang agar semakin gemar membaca dan berubah lewat membaca.

Udin memang lelaki pekerja keras. Ia juga punya pesan untuk anak-anaknya, bahwa jika ingin menjadi orang sukses, yang pertama adalah harus menumbuhkan minat baca pada diri sendiri, seperti halnya orang-orang yang sukses karena membaca. Dan jangan jadi pemalas.

Lalu, kapan waktu membaca bagi Udin Angkot? Ia mengaku hal itu tidak terbatas dengan waktu. Kapan pun bisa ia lalukan, seperti saat menunggu penumpang, atau saat di rumah kala istirahat. Tapi untuk waktu menulis, ia lakukan sore atau malam sehabis pulang narik angkot.

Ide untuk menulis cerita pendek atau puisi, biasanya Udin dapatkan usai membaca berita yang sedang ramai di suatu koran. Dari sana Udin kemudian menjadikannya sumber inspirasi untuk tulisan-tulisannya. Baginya yang penting adalah menuliskannya terlebih dulu.

Udin biasa langsung menulis dengan tangan di buku tulis yang selalu tak lupa ia bawa. Jika sudah terkumpul, ia baru mengetik ulang. Awal-awal ia meminjam jasa ketik rental, tapi sekarang ia meminta bantuan anaknya untuk mengetik ulang. Ia mengaku bersyukur, anaknya sudah bisa mengoprasikan komputer sekarang.

Udin sadar, untuk merubah pola pikir masyarakat tidaklah mudah. Pertamakali mendirikan Perpustakaan di rumahnya, Udin mengaku, bahwa kebanyakan masyarakat di kampungnya masih kurang berminat soal urusan membaca. Tapi pelan-pelan Udin terus mensosialisasikan perpusnya itu. Ia mempunyai niatan, suatu saat nanti ingin merubah masyarakat di kampungnya agar semakin mencintai literasi. (Ahmad Wayang)