Ilustrasi/ Photo By @Zakhi Hidayatullah
Ilustrasi/ Photo By @Zakhi Hidayatullah

Keindahan beribadah kepada Allah SWT itu berdasarkan kerinduan kita menghadap sang pencipta, tidak sekedar menjalankan ritual ibadah sebagai penggugur kewajiban semata.

Islam mengajarkan tata cara kehidupan, mulai dari hal kecil sampai persoalan rumit. Al-Quran yang bersifat universal mampu menjawab tantangan umat dari zaman Adam sampai Manusia Zaman now.

Cukuplah sampah kita tumpuk lalu kita musnahkan (bakar), begitupun juga dosa yang kita perbuat jangan ditumpuk, harus dibersihkan dengan taubat. Sampah bisa di daur ulang hingga bermanfaat untuk orang lain. Sedangkan dosa hanya hanya menjadi ‘tiket’ untuk masuk kedalam tempat menyedihkan yang dikenal dengan sebutan Neraka.

Mumpung kita masih muda walaupun bukan jaminan umur kita panjang, setidaknya banyak hal yang bisa kita perbuat.
Mulai sekarang musnahkan dosa, seperti kita membakar tumpukan sampah. Jangan sampai kita kehabisan waktu untuk bertaubat. Sehingga kita kembali kepada sang khalik membawa sejuta tumpukan dosa seperti sampah yang berserakan di rumah tak berpenghuni.
Salah satu ciri muslim yang berjiwa hanif mencari kebenaran adalah merasa tidak tenang dengan dosa walaupun sangat sedikit. sebagaimana perkataan Sahabat,

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,
“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.”

Ilustrasi/ Photo By @Zakhi Hidayatullah
Ilustrasi/ Photo By @Zakhi Hidayatullah

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,
“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar yang membinasakan.”

Maka seorang mukmin akan berusaha menghapus dosanya walaupun sedikit dengan segera. Wallahu’alam bishawab.

(Nasrul Effendi)