Ilustrasi Buku Pengetahuan Islam Photo by @Zakhi Hidayatullah
Ilustrasi Buku Pengetahuan Islam Photo by @Zakhi Hidayatullah

Saat merenung duduk santai ditemani kopi hitam khas Lampung saya teringat hadis Rasulullah;
“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman”.

Hadis ini menjelaskan bahwa sebagai umat muslim memiliki kewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Sedikit pengetahuan kita dapat sepatutnya disampaikan. “sampaikanlah walau satu ayat”.

Lebih jauh, era globalisasi membawa dampak derasnya keterbukaan informasi. Nampaknya masyarakat mulai kehilangan identitas. Gaya hidup dipengaruhi oleh suguhan media massa. Sesuai dengan teori jarum hipodermik, media memiliki kekuatan sangat perkasa dan papun disampaikan media dianggap sebagai kebenaran dan ditiru.

Internet sebagai media baru melahirkan beraneka ragam aplikasi dan sangat menguasai informasi serta membentuk opini publik, terutama pada generasi milenial. Sehingga di era saat ini umat islam dituntut untuk selalu berinovasi dalam berdakwah.

Ilustrasi Buku Pengetahuan Islam Photo by @Zakhi Hidayatullah
Ilustrasi Buku Pengetahuan Islam Photo by @Zakhi Hidayatullah

Media sosial menawarkan kepada siapa saja untuk berbagi informasi. Arus informasi sudah tidak bisa lagi dibatasi. Tiap perkembangan informasi selain mendatangkan manfaat juga mudharat. Ini juga berdampak pada terjadinya transisi Otoritas keagamaan dulu dimiliki oleh Kiyai, pemuka agama, ustad, kini mulai digantikan oleh wadah internet. Siapapun kita dan dimanapun jika tidak tau suatu hal tentang agama atau fiqih tinggal search di google langsung dapat jawabannya.

Orang lebih nyaman dan mudah menanyakan sesuatu permasalahan kepada media internet, apalagi persoalan dihadapi bersifat pribadi. Menjadi soal, media internet tidak semua sumber dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Orang awam akan kesulitan membedakan informasi akurat dan informasi menyesatkan.

Disinilah para penggiat dakwah mengambil peran. Informasi hoax (palsu) kerap mejadi momok (masalah) dalam menyebarkan informasi, alhasil masyarakat bingung informasi yang valid. Jika informasi itu dibuat dan dikirim orang salah, sudah informasi yang diterima bersifat buruk pula.

Mungkin sebagian masyarakat beranggapan bahwa berdakwah dengan media sosial tidak terlalu penting, yang penting menghadiri pengajian, menimba ilmu agama di pesantren.

Internet atau media sosial hadir untuk membantu jemaah sibuk dengan aktifitasnya yang butuh informasi keagamaan dengan cepat, bisa sekedar mendengar tayangan video para da’i di youtube berdurasi pendek. Hampir setiap orang memiliki smart phone dan akses internet, informasi cepat diakses, seolah dunia ada dalam genggamannya, tidak ada batas. Informasi kebenaran baiknya lebih mendominasi dibanding informasi menyesatkan apalagi hoax. Kemajuan zaman tidak untuk dihindari apalagi dilawan, melainkan kita sebagai umat muslim yang memiliki tanggung jawab untuk berdakwah menjadi penggerak perubahan zaman yang bermanfaat untuk umat, agama, bangsa dan negara. Wallahu,alam bishawab.

(Nasrul Efendi)