Ilustrasi by @Abror Tanjung
Ilustrasi by @Abror Tanjung

”Seseorang mati tersandung lidahnya dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya. Demikian tersandung mulutnya akan menambah sakit kepalanya (pening) Sedangkan tersandung kakinya akan sembuh dengan perlahan.”
Itulah salah satu pesan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Era digital dan sosial media saat ini mendobrak semua batasan komunikasi. Tidak hanya terbatas pada ruang, dimanapun dan kapanpun kita bisa berinteraksi dengan rekan dan keluarga.

Sebagai umat muslim, kita diajarkan untuk menjaga lisan. Sekarang kita bukan hanya menjaga lisan melainkan tulisan yang dituangkan di sosial media. karena itu bagian dari representasi pikiran, perkataan dan dalam bentuk yang berbeda.

Ilustrasi by @Abror Tanjung
Ilustrasi by @Abror Tanjung

Apa yang harus aku lakukan?
Ayo guys, ada beberapa cara agar kita terhindar dari tajamnya perkataan, yang pertama berkatalah yang baik (bahasa yang tepat) , kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian maka diam adalah memiliki kedudukan lebih rendah dari pada berkata baik, namun lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik.

Seperti yang diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib;
“Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.”

jadi jika ingin mengucapkan sesuatu, berfikirlah terlebih dahulu dan posisikan jika orang lain mengatakan hal yang sama terhadap kita. Jika kamu merasa sakit maka jangan lakukan, jika kamu ragu, maka tinggalkan.

E. Ahmad