Belakangan ini media sosial dan layar kaca dihebohkan dengan pemberitaan ‘Papah’, sapaan manja untuk tersangka korupsi mega proyek e-KTP yaitu SN. Sempat penyidik KPK tak mampu menghendus keberadaan mangsa, sekali dengar kabar tiang listrik jadi pahlawan.

Tak lama, berita mobil mewah sang Papah yang menyeruduk tiang listrik menyebar secepat kilat melalui media sosial serta media massa. Tak heran jika publik menduga itu skenario yang dimainkan untuk menghindari terkaman KPK.

Ilustrasi Tragedi Tiang Listrik photo by @haryosidik7
Ilustrasi Tragedi Tiang Listrik photo by @haryosidik7

Dari beberapa cuitan sosial media ada yang mengatakan Akting SN norak, mudah ditebak khalayak. Mungkin hampir tiap pengguna medsos latah mencibir “kenakalan” SN melalui gerakan manis jari jemari.
Menurut KPK kerugian negara yang dihasilkan ulah SN milyaran rupiah. Nilai yang begitu fantastis bisa digunakan untuk kepentingan rakyat bahkan bisa membangung ratusan masjid di daerah tertinggal.

Oh iya guys, tapi coba kita melamun sebentar …
Sekali kita berkaca, jangan-jangan wajah SN muncul ketika kita bercermin. Kebiasaan masyarakat kita dalam mengelola kejujuran. Contoh nih ya, tidak jujur dalam membuat nota jual beli, tidak amanah terhadap hal kecil dari seorang kawan dan lebih sering ialah korupsi waktu.

Karena kita terlalu sibuk mencaci koruptor, jangan menjadikan diri lupa untuk menjaga pribadi agar senantiasa memelihara kejujuran. Jika tanpa pangkat kita sudah berani korupsi, mau jadi apa jika sudah menjadi pejabat. Tekan korupsi, budayakan jujur, mulai dari diri sendiri, sekarang dan seterusnya. Semoga kita selalu diberi pentunjuk jalan yang lurus oleh Allah SWT.

Nasrul Efendi

SHARE
Previous articleMerindunya
Next articlePelarian Cinta