Pernahkah kita berpikir setelah meninggal nanti, apa yang akan terjadi? Apa yang akan kita hadapi dan apa yang akan kita jawab atas pertanggungjawaban kita hidup di dunia? Bagaimana siksaan kubur dan neraka atas dosa dan larangan yang dilakukan? Atau bagaimana enaknya merasakan hidup indah di surga?

Tidak ada yang lebih baik bagi kita “manusia” selain mengingat kematian. Dengan mengingatnya kita sadar bahwa hidup di dunia ini bukanlah selamanya, hidup ini memiliki konsekuensi dan resiko atas amal baik dan buruk yang dilakukan, hidup ini harus mengerjakan amal kebaikan dan segala perintah-Nya. Mungkin kita tidak akan menyadari itu sampai nanti kelak ajal telah tiba.

Tidak ada yang dapat menolong kita selain tiga perkara, dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang sholeh” (HR.Muslim no. 1631). Amalan sedekah jariyah seperti membangun masjid, sekolah, tempat wudhu, kamar mandi umum di daerah, dan segala macam wakaf yang dimanfaatkan dalam ibadah. Kemudian ilmu, ilmu yang diajarkan akan terus mengalir pahalanya setelah ia meninggal dunia.

Perkara ketiga adalah anak yang sholeh yang tumbuh dengan lingkungan pendidikan agama, maka meskipun orang tuanya meninggal maka mereka masih mendapatkan pahala. Allah Swt. berfirman : “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm:39). Diantara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholeh. Nabi SAW. bersabda : “ Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-I no. 4451. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Maka amalan baik apapun dari anaknya yang sholeh masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat.

Ziarah Kubur photo by @zakhi hidayatullah
Ziarah Kubur photo by @zakhi hidayatullah

Tidak hanya anaknya saja, adapun doa yang dilantunkan orang lain untuk orang yang sudah meninggal tetap bermanfaat. Allah Swt. berfirman : “ Dan orang-ornag yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa : Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr:10).

Ayat diatas menjelaskan manfaat yang dapat diberikan orang yang masih hidup kepada orang yang sudha meninggal dunia adalah do’a. Keutamaan do’a kepada orang yang sudah meninggal diperkuat dengan dalil dari Nabi SAW : “Do’a seorang muslim kepada saudaranya saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat akan berkata : “Amin, Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim no. 2733, dari Ummu Ad Darda’).

Masih banyak amalan kebaikan lainnya yang dapat kita lakukan seperti mengerjakan sholat sebagai kebutuhan kita pada Allah Swt., membaca al-Qur’an atau buku agama, berzakat, puasa, haji atau umroh, berinfak, membantu dan menolong korban bencana alam dari segi bantuan jasa dan materi, dan amalan lainnya. Amalan menjalankan sunnah menikah juga dianjurkan dalam Islam, dengan tujuan agar memperbanyak keturunan (dimana orang tua bertanggung jawab memenuhi segala hak anaknya termasuk pengetahuan agama) dan mendidik mereka menjadi anak yang sholeh dan bermanfaat nantinya ketika kita telah meninggal nanti.