Katanya Indonesia tanahnya subur, hamparan lautnya luas. Kail dan jala cukup menghidupi warga, tongkat jadi tanaman. Sawah petani habis digerogoti beton bertingkat. Saat para sarjana pertanian dan perkebunan pulang ke kampung.

Sawah habis disulap menjadi perumahan, hutan habis dibabat. Perkebunan dikuasai oleh pengusaha besar, pertanian didekte dengan produk industri. Limbah industri hingga limbah rumah tangga mengalir deras ke tempat-tempat yang dulunya indah nan asri. Kekuasaan yang menyilaukan mata, membuat pandangan pemimpin yang tidak amanah menjadi kabur. Hanya kebijakan yang menguntungkannya menjadi fokus garapan. Sedikit kebijakan yang mendukung potensi alam Nusantara.

Photo by @haryosidik
Photo by @haryosidik

Belum lama digegerkan beredarnya foto buaya berkalung ban mobil, badan ikan yang tampak nyaris putus akibat ada plastik di tubuhnya, hewan liar yang mati karna memakan sampah. Kerusakan lingkungan tidak secara massif langsung dirasakan sekarang. Tanpa disadari kita turut menyumbang produksi sampah.

Pengolahan plastik apik salah satu PR agar alam tetap terjaga. Banyak digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan manusia, tak mudah dibusukkan oleh alam. Daur ulang pun hanya bisa dilakukan beberapa kali pengolahan saja. Apabila dibakar akan menjadi polusi udara. Lalu apa yang terjadi jika ini tidak diatasi?

Pohon habis ditebang, gunung habis dikeruk, air menjadi tercemar, udara kotor, hewan-hewan mulai kehilangan habit aslinya. Kalau alam rusak, lantas mau ke mana? Padahal Allah memerintahkan untuk menjaga alam.

Hal itu sudah diterangkan dalam Firman Allah dalam Al Quran surat Al Syuara’ [26], ayat 183: Artinya : Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya, dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Sebelum pohon terakhir musnah, tetes air terakhir menjadi rusak, lebih baik kita tetap menjaga kelestarian alam. Agar anak cucu kita turut menikmati alam Indah ini.

N. Efendi