Photo by @Zakhi Hidayatullah
Photo by @Zakhi Hidayatullah

Meeoong…
Begitulah rintihan seekor kucing mengganggu saat sedang makan di sebuah warung pojokan Ibukota. Diusapnya tubuh ke kaki, diusir balik lagi. Tatapan matanya tajam, seolah ingin merebut makananku. Akhirnya dengan rela hati kumakan daging, kuberi ia tulang. Kami pun sama sama kenyang.

Jika diberi kesempatan memilih, kucing kampung pasti ingin nasibnya seperti kucing anggora. Dirawat, dikasihi, disayangi sang majikan.

Cuplikan kisah nyata di atas bisa juga dianalogikan kehidupan manusia. Ada si kaya juga si miskin. Tak bisa manusia memilih mau dilahirkan di rahim siapa. Ada orang miskin meminta belas kasih si kaya, namun tidak banyak yang menolongnya.

Photo by @Zakhi Hidayatullah
Photo by @Zakhi Hidayatullah

Susahnya menjadi pribadi sukses kadang membutakan mata. Lupa, darimana rejeki itu berasal. Seolah hebatnya, karena dirinya sendiri tanpa sentuhan takdir Allah.

Perlu kita pahami bahwa kesuksesan, begitu pula harta yang Allah anugerahkan hanyalah titipan dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar,” (QS. Al Hadiid: 7).

Ayat ini menunjukkan bahwa harta hanyalah titipan Allah. Seperti dalam firmannya. Yang artinya: “Hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.”

Hakikatnya, harta tersebut adalah milik Allah. Allah Ta’ala yang memberi kekuasaan pada makhluk untuk menguasai dan memanfaatkannya. Semoga kita menjadi arif dalam menyikapi takdir Allah dan amanah dalam menjaga serta menggunakan titipan dari Allah dengan sebaik-baiknya.

N. Efendi