Photo by Zaky Hidayatullah
Photo by Zaky Hidayatullah

Aku tak tau syariat Islam
yg ku tau sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukkan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus wujudmu
…………
Aku tak tau syariat Islam
Yang ku tau suara kidung ibu Indonesia sangantlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi
………
Selengkapnya bisa ditonton detik.com https://www.youtube.com/watch?v=p73l7ZnsVj0

Agar tidak dianggap sebagai tindakan reaktif yang menggunakan sentiment bukan argument.

Bagiku, tidak sedikitpun estetika bahasa yang ditemukan dalam puisi ini, tiap kalimat yang disusun tak relevan satu dengan yang lain, Pemilihan diksi yang sangat amburadul, jika kamu tak setuju aku tak peduli, jika tidak tahu maka pelajari jangan bikin puisi.

Awal kalimat puisi ini sudah mencerminkan ketidaktahuan, ketidaktahuan terhadap Syariat Islam. Namun puisi ini sangat “hebat” walaupun tidak tahu ia bisa membandingkan kalau sari konde Ibu Indonesia lebih cantik dari cadar. Itu seperti halnya kamu tidak pernah tahu siapa itu Dian Sastro dan kamu bilang “Puan Maharani lebih cantik dari Dian Sastro”. Lah?

Yang aku tahu, cadar adalah keinginan para wanita yang menutup wajahnya dari pandangan laki-laki. Jika kamu tak setuju silahkan, bahkan jika kamu anggap telanjang sekalipun adalah cantik maka silahkan karena banyak laki-laki yang menikmati dengan mata mereka.

Photo by Zaky Hidayatullah
Photo by Zaky Hidayatullah

Episode Kecacatan kalimat berlanjut, apa relevansinya membandingkan kecantikan konde Ibu Indonesia dengan cadar? Cadar bukanlah memberikan kecantikan tapi menyembunyikan kecantikan agar terjaga kehormatannya bagi perempuan yang memakainya. Maka perbandingan yang dibuat sangatlah dangkal makna dan bahasa.

Jika ingin bandingkan maka bandingkanlah lebih cantik mana konde Indonesia dengan konde yang dibuat/dipakai oleh wanita Amerika misalnya. Atau lebih cantik mana cadar orang Indonesia dengan cadar para perempuan di Arab Saudi misalnya. Atau jika menurutmu wanita berbikini itu lebih cantik dan seksi maka bandingkanlah perempuan Indonesia dengan Jepang yang sama-sama memakai bikini, bukan dengan wanita yang memakai cadar.

Ada lagi, suara kidung Ibu Indonesia lebih merdu dari suara adzan. Ini pun sama, harusnya jika kamu ingin bandingkan maka bandingkanlah dengan suara kidung atau nyanyian yang lain. Dan bandingkan adzan dengan adzan pula, misalnya adzan di masjid kampung A lebih merdu dengan adzan di kampung B, itu sangat pas bahkan jika kameranya pas sehingga bagi saya ini akan menjadi sebuah BOOMING.

Yang jelas dan yang aku tahu hanya iblis dan kelompok jin pengikutnya yang tak menyukai suara adzan.

Jadi jika kita tidak tahu sesuatu maka belajarlah, jika malas belajar maka diamlah, jika tak bisa diam maka belajarlah.. dan seterusnya.

Kamu dan Saya generasi muda Indonesia pelihara agama kita masing-masing sebagai bentuk bahwa anda Pancasila.

Yang kami bela bukan Allah Tuhan kami, Dia sudah perkasa, yang kami bela adalah agama, agama ada sistem yang sudah kokoh, jika agama dihancurkan maka hancurlah umat ini dalam sistem dan negara. Jangan sampai puisi semacam ini muncul kembali dengan penuh etnosentrisme.

Bagi Enstein ilmu tanpa agama akan menjadi buta, dan agama tanpa ilmu akan sangat rapuh. Maka jangan pernah alergi dan malu wahai para generasi muda dalam membela agama. Untuk mencapai Indonesia yang kuat, dibutuhkan para politikus, kritikus, rakyat, dan pemimpin yang bermoral dan beragama. Bukan memisahkan agama dengan politik.

Pemuda yang tak tahu syariat Islam
Egist Ahmad