Photo by Zaky Hidayatullah
Photo by Zaky Hidayatullah

Siapa yang tidak kenal dengan filsuf klasik kelahiran Jerman yaitu Karl Marx. Pemikirannya yang seksi dan sangat kontroversial sampai saat ini masih tetap dipelajari dalam berbagai diskusi ataupun di bangku kuliah. Salah satu bahasan menarik Marx selain kekuatan ekonomi, kapitalisme, kepemilikan modal ialah membicarakan masalah agama.

Walaupun Marx sendiri tidak memiliki komitmen terhadap satu agama ditambah lagi ayahnya yang berpindah agama dari Yahudi ke Katholik karena alasan politik saat itu, tidak membuat ia luput perhatian dari kajian agama.

Pada 1840an Marx menelisik bahwa ada bau yang tidak sedap melihat kondisi kaum "Proletar" saat itu. Lebih jauh lagi ia melihat ada "perselingkuhan keji antara para penguasa atau kaum kapitalis dengan gereja. Hubungan itu lebih mengarah pada ranah doktrin agama sebagai kendaraan politik ekonomi.

Tak sepaham dengan yang bertebaran di ruang publik, Sebagai orang yang memiliki aliran materialistis, Marx selalu sensitif melihat fenomena sosial. Saya kira Marx mencoba menjabarkan bahwa agama harus diposisikan kedalam yang lebih kongkrit. Agama harus direduksikan ke dalam konteks sosial, politik dan ekonomi. Tidak hanya semata-mata memiliki diksi surga neraka, dosa dan pahala, Tuhan dan malaikat serta dunia dan akhirat.

Di tempatkan dalam khayalan imajinasi manusia, agama mampu memberikan ilusi untuk menyembuhkan kekecewaan psikologi sosial, menghilangkan penderitaan dan kesengsaraan kondisi ekonomi kaum Ploretar dengan cara melemahkan semangat perubahan. Bahwa manusia yang taat akan mendapatkan balasan kehidupan yang nyaman di surga nanti, bahkan bisa jadi pernyataan "tidak apa miskin di dunia, nanti aku akan kaya di surga" sudah mewabahi masyarakat ploretar.

Jd akan disadari bahwa kita akan bijak memposisikan agama sebagai pereda kekecewaan tapi juga pembawa perubahan. Jika agama mampu dijadikan doktrin untuk pengikat pemberontakan kaum proletar saat itu, maka  tidak menutup kemungkinan juga agama bisa dijadikan alat perubahan. Dengan kesimpulan bahwa bukan agamanya,  melainkan siapa yang menjadikan doktrin agama sebagai kendaraan politik.

Photo by Zaky Hidayatullah
Photo by Zaky Hidayatullah

Lalu, bagaimana jika kita tarik pada konteks aksi bela Islam atau yang dikenal dengan aksi 212.

Ada dua prespektif yang bisa kita lihat, 1 prespektif dimana anda tidak setuju dengan Marx bahwa agama sebagai doktrin pereda perlawanan dalam aspek ekonomi. Tapi anda juga boleh setuju dengan faham Marx bahwa agama juga bisa sangat mungkin dijadikan kendaraan sebagai "social movement" (gerakan sosial).

Tapi yang menjadi pembeda adalah aksi 212 ini dilatarbelakangi oleh adanya penistaan agama yang dilakukan oleh tokoh politik pada saat itu Cagub untuk DKI Jakarta. Karena sumbernya berasal dari tokoh politik, maka bagi saya ada 3 aliran yang menggerakan aksi ini.

Pertama, aliran ini aliran murni aksi bela agama karena salah satu ayat kitab suci Quran dianggap sebagai alat pembohong yaitu surat Al-Maidah ayat 51. Tidak herjan jutaan umat Islam tergugah datang ke titik Monas untuk melakukan aksi damai dari berbagai pelosok daerah.

Kedua, aliran ini bisa dikatakan tidak memiliki alasan apapun melainkan karena  kelompok ini  memiliki pilihan Cagub yang lain entah itu alasan ekonomi, kebijakan publik, dan kepribadian BTP yang tidak mereka suka. Jadi inilah kesempatan mereka melakukan aksi 212.

Ketiga, aliran ini adalah aliran gerakan politik. Mengapa? Karena yang berbicara adalah tokoh politik, jadi akan sangat sulit jika dipisahkan dari unsur politik. Tapi unsur politik yang dimaksud disini adalah bagi hampir sebagian kecil/besar umat Islam memang mejadi seorang pemimpin yang diluar agamanya sendiri tidak diperbolehkan seperti dalam Maidah ayat 51.

Aliran ini mengatakan bahwa Islam tidak alergi politik dan politik dalam bernegara tidak dapat dipisahkan dengan agama. Quran kaya akan aspek kehidupan, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, teologi, sains dan politik mencakup seluruhnya . Bahkan para pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia dan para pemberontak Belanda banyak yang berasal dari tokoh agama dan para santri

Aksi bela Islam yang dulu bisa kita anggap skala DKI, Ternyata hal ini berlanjut, bahwa gerakan ini ditunjukan untuk mendukung salah satu pasangan Presiden. Tidak perlu menganalisis secara tajam, kita bisa lihat saat surat perjanjian dilayangkan antara GNPF Ulama dan Pak Prabowo Subianto memiliki beberapa perjanjian tertulis yang dipublikasiskan secara umum dengan beberapa poin, salah satunya melindungi dan memulangkan kembali HRS dan melindungi ulama-ulama tanah air dari kriminalisasi dan ancaman karena GNPF menganggap pemerintah tidak bisa menjamin keselamatan ulama mereka yang memang salah satu pemimpin aksi 212 saat itu adalah HRS.

Jadi, membicarakan Marx nampaknya akan selalu menumbuhkan gairah analisis yang unik terhadap fenomena sosial. Dulu ia berbicara bahwa perubahan berawal dari perlawanan antar kelas, namun bisa kita geser sedikit di era demokrasi saat ini bahwa jalur politik lah yang paling strategis untuk membawa perubahan melalui kebijakan-kebijakan pemerintah sesuau dengan kepentingan kelompok masing-masing.

Egits Ahmad

SHARE
Previous articlePuisi “Bu Suk” Konde dan Cadar